• ayo belajar bersama, sharing bersama, dan berbagi bersama tentang psikologi

Kamis, 20 Desember 2012

PERSEPSI WARNA, BUNYI, GERAK SERTA KEDALAMAN, ILUSI DAN HALUSINASI


A.    Persepsi Warna

Untuk mengmati sesuatu, individu harus mempunyai perhatian pada obyek yang diamatinya. Bila individu telah memperhatikan, selanjutnya individu menyadari sesuatu yang diperhatikan itu, atau dengan kata lain individu mengamati apa yang diterima dengan alat inderanya. Individu dapat melihat dengan matanya tetapi mata bukanlah satu-satunya bagian hingga individu dapat mengamati apa yang dilihatnya. Mata hanyalah meruakan salah satu alat atau bagian yang menerima stimulus, dan stimulus ini dilangsungkan oleh saraf sensoris ke otak, hingga akhirnya individu dapat menyaari apa yang dilihat
Ketika siapapun melihat warna tertentu,syaraf-syaraf spesifik dalam area korteks visual dalam otak kita diaktifkan.Syaraf-syaraf spesifik ini akan non-aktif jika sebuah warna dari lawan spectrum warna paling akhir disajikan. Jadi,syaraf manapun akan aktif ketika warna biru disajikan,akan tidak aktif ketika warna yang benar-benar berlawanan dengannya,yaitu kuning, masuk kedalam area visual tersebut.
Ketika persepsi warna menjadi hal yang subyektif, ada beberapa efek warna yang memiliki makna universal. Warna merah di daerah spektrum warna yang dikenal sebagai hangat, termasuk warna merah, oranye, dan kuning. Warna ini membangkitkan emosi mulai dari perasaan hangat dan nyaman sampai perasaan marah dan permusuhan.
Warna biru  dikenal sebagai spektrum warna dingin, termasuk warna biru, ungu, dan hijau. Warna ini sering digambarkan sebagai ketenangan, tetapi juga dapat membangkitkan perasaan sedih atau terabaikan.
Beberapa kebudayaan kuno, termasuk orang-orang Mesir dan Cina, mempraktekan chromotherapy, atau penggunaan warna untuk menyembuhkan. Chromotherapy kadang-kadang disebut sebagai terapi cahaya atau colourology. Tekhnik penyembuhan ini masih digunakan sampai saat ini sebagai pengobatan alternatif.
Dalam perawatan ini, merah digunakan untuk merangsang tubuh dan pikiran serta meningkatkan sirkulasi.Kuning untuk merangsang simpul-simpul syaraf untuk meningkatkan sirkulasi tubuh.Orange digunakan untuk menyembuhkan paru-paru dan untuk meningkatkan tingkat energi. Biru diyakini untuk meringankan penyakit dan mengurangi rasa sakit. Warna Indigo digunakan untuk mengatasi masalah kulit.

B.    Persepsi Bunyi
Telinga merupakan salah satu alat untuk dapat mengetahui sesuatu yan ada di sekitarnya. Telinga dapat dibagi tas beberapa baian yang masing-masing mempunyai fungi atau tugas sendiri-sendiri, yaitu:
1.   Telinga bagian luar, yaitu merupakn bagian yang menerima stimulus dari luar
2.   Telinga bagian tengah, yaitu meruakan bagian yang menerukan stimulus yang diterima oleh telinga bagian luar, jadi bagian ini merupakan “transformer”
3.   Telinga bagian dalam, yaitu merukan reseptor yang ensitif yang merupakan saraf-saraf penerima.

Ketika seseorang berbicara atau bernyayi, indra pendengaran kita mampu membedakan cirri bunyi yang satu dengan yang lainnya. Indra pendengaran mampu menangkap dan memahami rangkaian  bunyi vocal  dan konsonan yang membentuk sebuah tuturan, cepat lambat tuturan dan nada tuturan yang dihasilkan seorang penutur.
Persepsi terhadap bunyi yang dihasilkan oleh alat bicara dikelompokkan menjadi dua, yakni:
1.  Persepsi terhadap bunyi yang berupa satuan structural yaitu vocal dan konsonan
2.  Persepsi terhadap bunyi yang berupa cepat lambat, kelantangan, tekanan dan nada

C.    Persepsi Gerak
Yakni cara seserang dalam mengartikan sesuatu dengan cara melihat benda2 yang bergerak. Persepsi gerak terbagi dalam 2 macam yaitu gerak tampak dan gerak nyata. Gerak tampak terjadi seperti tayangan film. Sedangkan pada gerak nyata adalah sesuatu yang benar2 terjadi.

D.    Persepsi Kedalaman
Anderson (1995) menyatakan bahwa persepsi kedalaman adalah persepsi yang muncul berdasarkan informasi mengenai kedalaman atas suatu objek. Sebelum sistem visual bekerja untuk mengidentifikasi kedalaman lingkungannya, terdapat banyak proses informasi yang dimunculkan sebelum sistem visual tersebut mampu melakukan persepsi. Masalah utama dalam persepsi kedalaman ini banyak dikarenakan  pemrosesan informasi yang dipersiapkan terletak pada retina yang melakukan pemrosesan objek dua dimensi, kemudian harus membangun sistem pemrosesan tiga dimensional.
Menurut Passer dan Smith (2004), kemampuan untuk beradaptasi dengan dunia spasial mengharuskan kita membedakan dengan baik, termasuk jarak dan pergerakan suatu objek dalam lingkungan. Manusia memiliki kemampuan ketelitian yang luar biasa dalam membuat beberapa judgment. Salah satu aspek yang menarik dari persepsi visual adalah kemampuan kita untuk persepsi kedalaman. Retina menerima informasi hanya dalam dua dimensi; panjang dan lebar. Namun, otak mentranslasi isyarat-isyarat tersebut menjadi persepsi tiga dimensi. Persepsi tiga dimensi ini menggunakan monocular depth cues, yang menggunakan hanya satu mata; dan binocular depth cues, yang menggunakan kedua mata.
Selanjutnya diungkapkan oleh Abidin (2010), ada beberapa patokan yang digunakan manusia dalam mempersepsi kedalaman, di antaranya: 1) persepsi atmosferik: semakin jauh objek, semakin kabur; 2) persepsi linier: semakin jauh, maka garis-garis akan makin menyatu menjadi satu titik (konvergensi); 3) kualitas permukaan (texture gradient): berkurangnya ketajaman kualitas tekstur karena jarak yang semakin jauh; 4) sinar dan bayangan: bagian permukaan yang lebih jauh dari sumber cahaya akan lebih gelap dibanding yang lebih dekat; dan 5) posisi relatif: objek yang jauh akan ditutupi atau kualitasnya menurun karena bayangan objek-objek yang lebih dekat.
Sejalan dengan hal tersebut, Burge, et. al (2005), dalam percobaan disparitas metriknya, mengungkapkan bahwa telah kita ketahui sebelumnya, daerah yang lebih terlingkupi, lebih kecil, lebih terorientasi secara vertikal, lebih tinggi dalam kontras, lebih simetris, terbatasi oleh lebih banyak garis luar yang paralel, lebih sedikit dalam display, lebih cembung, dan lebih familiar, kemungkinan besar akan dilihat sebagai yang lebih dekat, daerah figural.

E.    Ilusi
Ilusi adalah suatu persepsi panca indera yang disebabkan adanya rangsangan panca indera yang ditafsirkan secara salah. Dengan kata lain, ilusi adalah interpretasi yang salah dari suatu rangsangan pada panca indera. Sebagai contoh, seorang penderita dengan perasaan yang bersalah, dapat meng-interpretasikan suara gemerisik daun-daun sebagai suara yang mendekatinya. Ilusi sering terjadi pada saat terjadinya ketakutan yang luar biasa pada penderita atau karena intoksikasi, baik yang disebabkan oleh racun, infeksi, maupun pemakaian narkotika dan zat adiktif.
Ilusi terjadi dalam bermacam-macam bentuk, yaitu ilusi visual (penglihatan), akustik (pendengaran), olfaktorik (pembauan), gustatorik (pengecapan), dan ilusi taktil (perabaan).

F.    Halusinasi
Halusinasi adalah persepsi panca indera yang terjadi tanpa adanya rangsangan pada reseptor-reseptor panca indera. Dengan kata lain, halusinasi adalah persepsi tanpa obyek. Halusinasi merupakan suatu gejala penyakit kejiwaan yang gawat (serius). Individu mendengar suara tanpa adanya rangsangan akustik. Individu melihat sesuatu tanpa adanya rangsangan visual, membau sesuatu tanpa adanya rangsangan dari indera penciuman.
Halusinasi sering dijumpai pada penderita Schizophrenia dan pencandu narkoba. Halusinasi juga dapat terjadi pada orang normal, yaitu halusinasi yang terjadi pada saat pergantian antara waktu tidur dan waktu bangun. Hal ini disebut halusinasi hypnagogik.
Bermacam-macan bentuk halusinasi yakni:
1.  Halusinasi akustik (pendengaran)
Halusinasi ini sering berbentuk :
·      Akoasma, yaitu suara-suara yang kacau balau yang tidak dapat dibedakan secara tegas
·      Phonema, yaitu suara-suara yang berbentuk suara jelas seperti yang berasal dari manusia, sehingga penderita mendengar kata-kata atau kalimat kalimat tertentu
2.  Halusinasi visual (penglihatan)
Penderita melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Halusinasi visual sering menimbulkan ketakutan yang hebat pada penderita.
3.  Halusinasi olfaktorik (pembauan)
Penderita membau sesuatu yang tidak dia sukai. Halusinasi ini merupakan gambaran dari perasaan bersalah penderita.
  1. Halusinasi taktil (perabaan)
Halusinasi ini sering dijumpai pada pencandu narkotika dan obat terlarang.
5.  Halusinasi haptik
Halusinasi ini merupakan suatu persepsi, di mana seolah-olah tubuh penderita bersentuhan secara fisik dengan manusia lain atau benda lain. Seringkali halusinasi haptik ini bercorak seksual, dan sangat sering dijumpai pada pencandu narkoba.
  1. Halusinasi kinestetik
Penderita merasa bahwa anggota tubuhnya terlepas dari tubuhnya, mengalami perubahan bentuk, dan bergerak sendiri. Hal ini sering terjadi pada penderita Schizophrenia dan pencandu narkoba.
  1. Halusinasi autoskopi
Penderita seolah-olah melihat dirinya sendiri berdiri di hadapannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar